Ticker

10/recent/ticker-posts
Tabloid rohani online hikmat profetik akhir zaman

WASPADALAH, IBLIS SEDANG MENDORONG KITA MAKIN MEMBURU UANG

MEMBURU UANG

Di akhir bulan Februari 2026 yang lalu, Tuhan kembali mengingatkan saya akan sebuah hikmat profetik yang pernah Ia nyatakan beberapa tahun sebelumnya: bahwa uang akan menjadi “berhala terakhir” di akhir zaman. Kemudian di awal April 2026, Tuhan juga memberi peringatan yang kuat, “Iblis sedang terus mendorong manusia untuk makin memburu uang.”

Firman Tuhan dalam 1 Timotius 6:10 menegaskan, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Ayat ini terasa begitu nyata jika kita melihat keadaan di sekitar kita—baik dalam kehidupan sehari-hari, media sosial, maupun berbagai arus informasi. Jumlah orang yang memburu uang terus bertambah, dengan hasrat yang semakin besar untuk memperoleh uang lebih banyak lagi.

Sayangnya, banyak yang tidak menyadari bahwa dalam proses itu, iman mereka perlahan menyimpang—dari Tuhan kepada uang. Alkitab sebenarnya sudah lebih dulu mengingatkan hal ini. Dalam 2 Timotius 3:1-2 tertulis, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar (berbahaya, menyusahkan, jahat/kejam, sulit untuk ditanggung/dijalani). Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (mencintai uang). ...” Ini adalah gambaran nyata dari zaman yang sedang kita jalani.



IMAN MENYIMPANG PARA PEMBURU UANG

Di hari-hari terakhir, kondisi ekonomi dan keuangan memang cenderung semakin sulit. Tekanan hidup meningkat, dan kesulitan finansial menjadi seperti wabah. Karena uang memiliki kemampuan untuk memberi rasa aman dan perlindungan, banyak orang akhirnya terdorong untuk mengejarnya tanpa batas. Namun ironisnya, “virus” memburu uang ini tidak hanya menjangkiti dunia luar, tetapi juga telah masuk ke dalam gereja dan kehidupan banyak orang percaya. Tanpa disadari, banyak yang beralih dari pemburu Tuhan menjadi pemburu uang.

Pengkhotbah 7:12"Engkau dapat memperoleh perlindungan dengan kebijaksanaan atau dengan uang, tetapi kebijaksanaan memelihara kehidupan orang yang memilikinya."

Fenomena ini bahkan tidak berhenti pada jemaat, tetapi juga menyentuh sebagian hamba Tuhan. Bahkan da yang mulai menggadaikan hati nurani, terlibat dalam praktik bisnis yang sarat kepentingan, bahkan bersinggungan dengan korupsi dan sistem yang merugikan banyak orang. Tanpa mereka sadari, langkah-langkah itu menyeret mereka semakin dalam ke dalam jerat kejahatan finansial.

Pernah suatu kali, seorang hamba Tuhan dalam khotbah Minggu menyampaikan keinginannya untuk menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah dalam waktu singkat melalui bisnis. Ia terinspirasi oleh seorang motivator yang telah mencapai kesuksesan tersebut. Lalu, apakah memiliki bisnis itu salah? Tentu tidak. Namun ketika bisnis menjadi sarana untuk memburu uang, di situlah letak masalahnya. Seorang pemburu uang cenderung mengejar dengan ambisi tinggi, didorong oleh hasrat yang kuat, bahkan bisa berubah menjadi obsesi. Dalam kondisi seperti ini, seseorang mudah bertindak agresif, tergesa-gesa, dan pada akhirnya bisa menghalalkan berbagai cara demi mencapai tujuan.

1 Timotius 6:9, "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan."

Karena itu, tidak heran jika seorang pemburu uang pada akhirnya melanggar salah satu perintah Yesus yang berikut ...

Matius 6:19, “Janganlah menimbun bagimu harta di bumi, tempat ngengat dan karat merusak dan tempat pencuri membobol dan mencuri.”

Perintah ini bukan sekadar larangan, melainkan sebuah prinsip hidup yang membawa dampak besar bagi siapa pun yang menaatinya. Ketika seseorang tidak lagi berfokus menimbun harta di bumi, hatinya pun tidak akan terikat pada hal-hal duniawi. Sebaliknya, ia akan belajar mengarahkan hatinya kepada hal yang kekal. Sebab, seperti yang ditegaskan dalam firman Tuhan: “di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21 - IMB).


YUDAS, RASUL YANG MEMBURU UANG

Yudas Iskariot, salah satu rasul Yesus, pada dasarnya adalah seorang pemburu uang. Bahkan ketika dipercaya sebagai bendahara, ia berkali-kali mencuri dari kas pelayanan gurunya (Yohanes 12:6). Kecintaannya terhadap uang mencapai puncaknya saat ia tega menjual Yesus kepada orang Farisi hanya demi 30 keping perak. Dari sini terlihat jelas bahwa Yudas rela menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang.

Yohanes 13:7, "Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: "Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera."

Perlu disadari, ada kuasa jahat yang bekerja di balik tindakan tersebut. Iblis menggerakkan hati Yudas hingga tanpa ia sadari, ia menyerahkan Yesus kepada pihak yang sangat bernafsu untuk menyalibkan-Nya. Ketika Yudas akhirnya menyadari bahwa tindakannya berujung pada hukuman mati bagi Yesus, penyesalan pun datang. Namun tragisnya, penyesalan itu tidak membawanya pada pertobatan, melainkan berakhir dengan keputusan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Bagi iblis, mengendalikan seorang pemburu uang bukanlah hal yang sulit. Uang menjadi alat yang sangat efektif untuk menggerakkan mereka melakukan apa pun yang iblis inginkan. Itulah sebabnya iblis begitu giat mendorong dan merangsang manusia untuk terus memburu uang, tanpa henti dan tanpa batas. Dorongan tersebut bahkan terasa semakin kuat di akhir zaman ini.

Peringatan Tuhan yang disampaikan di awal tulisan ini seharusnya mengingatkan kita untuk semakin waspada terhadap dorongan memburu uang. Di tengah gelombang kehancuran ekonomi yang sedang menenggelamkan dunia, kita perlu menyadari bahwa kemampuan uang, bisnis, maupun profesi untuk benar-benar menyelamatkan hidup manusia memiliki batas yang sangat jelas.
Karena itu, arahkan kembali kepercayaan kita kepada Yesus—satu-satunya Pribadi yang kuasa dan kekayaan-Nya tidak terbatas. Di dalam Dia, ada pengharapan yang tidak tergoyahkan, jauh melampaui apa pun yang bisa ditawarkan oleh dunia.

penulis: Yohanes Prima

Post a Comment

0 Comments